MaestroNews – Sebuah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan parade militer yang dikaitkan dengan Front Pembebasan Azawad (Front de Libération de l’Azawad/FLA) di wilayah Bordj Badji Mokhtar, Aljazair bagian selatan. Menurut laporan media La Revue d’Afrique, parade tersebut menampilkan konvoi kendaraan taktis dan pengibaran bendera kelompok tersebut di kawasan yang berbatasan langsung dengan Mali.
Bordj Badji Mokhtar merupakan kota sekaligus provinsi di Aljazair yang berada di kawasan perbatasan dengan Mali bagian utara. Wilayah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai jalur lintas batas yang kerap menjadi area pergerakan berbagai kelompok bersenjata yang beroperasi di kawasan Sahara.
Kemunculan video tersebut memunculkan beragam spekulasi dan analisis geopolitik. La Revue d’Afrique menilai kemunculan FLA secara terbuka di wilayah tersebut dapat mengindikasikan adanya ruang gerak yang dimiliki kelompok tersebut di kawasan perbatasan Aljazair-Mali. Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat pernyataan resmi dari Pemerintah Aljazair terkait video yang beredar maupun interpretasi yang berkembang di berbagai media.
FLA sendiri dibentuk pada akhir 2024 sebagai wadah yang menyatukan sejumlah kelompok bersenjata Tuareg di wilayah Azawad, Mali bagian utara. Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok tersebut dilaporkan meningkatkan aktivitas militernya terhadap pasukan pemerintah Mali dan kelompok sekutu yang mendukung operasi keamanan di kawasan tersebut.
Situasi keamanan yang terus berkembang turut berdampak pada hubungan diplomatik antara Aljazair dan Mali. Ketegangan meningkat setelah pemerintah transisi Mali memutus perjanjian damai yang sebelumnya difasilitasi melalui Proses Algiers, sebuah inisiatif yang selama bertahun-tahun menjadi kerangka dialog antara pemerintah Mali dan berbagai kelompok di wilayah utara negara tersebut.
Persisma Serukan Stabilitas dan Perdamaian
Perkembangan situasi keamanan di kawasan Afrika Utara dan Sahara turut menjadi perhatian berbagai kalangan internasional, termasuk di Indonesia. Presiden Persaudaraan Indonesia Sahara Maroko (Persisma), Wilson Lalengke, menyampaikan harapannya agar dinamika yang terjadi tidak mengganggu upaya perdamaian yang sedang berkembang di kawasan tersebut.
“Kami mengamati dengan cermat perkembangan situasi keamanan di Afrika Utara. Kami sangat berharap agar resolusi konflik dan proses penyelesaian masalah di wilayah Sahara Maroko yang saat ini sudah berjalan ke arah positif, tidak terganggu oleh pergerakan-pergerakan militer atau manuver politik yang dapat memprovokasi keadaan,” ujar Wilson Lalengke di Jakarta, Senin (1/6/2026).
Alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang digital, terutama yang berkaitan dengan konflik dan isu keamanan regional.
Menurutnya, seluruh pihak perlu mengedepankan penyampaian informasi yang akurat dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun opini yang dapat memperkeruh situasi.
“Penyelesaian masalah secara damai, bermartabat, dan menghormati kedaulatan wilayah harus menjadi komitmen bersama. Hal ini sangat krusial demi memastikan kenyamanan, keamanan, serta kesejahteraan masyarakat luas, baik bagi warga di Sahara Maroko maupun bagi kelangsungan hubungan baik antara bangsa Maroko dan bangsa Aljazair sendiri,” tegasnya.
Persisma berharap seluruh pihak dapat terus mengedepankan dialog dan penyelesaian damai dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan di kawasan Afrika Utara, sehingga stabilitas sosial, ekonomi, dan hubungan antarnegara dapat tetap terjaga demi kemaslahatan masyarakat luas.












